Analisa Zat Kimia Berkhasiat Obat dari daun Cincau

Tumbuhan Cincau (Cylea barbata)

Botani tumbuhan

Cincau Hijau Cincau Perdu

Nama Lokal :
Cincau (Indonesia), Camcao, Juju, Kepleng (Jawa); Camcauh, Tahulu (Sunda);

Tarawalu, dan lain-lain.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae  (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta   (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta   (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta   (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida   (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Familia : Verbenaceae
Genus : Premna
Spesies : Premna oblongifolia Merr.
Kerabat dekat:
Alagaw, Kayu pahang

1.       Uraian tumbuhan

Kata “cincau” sendiri berasal dari dialek Hokkian sienchau yang lazim dilafalkan di kalangan Tionghoa di Asia Tenggara. Cincau sendiri di bahasa asalnya sebenarnya adalah nama tumbuhan (Mesona spp.) dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae).

Tumbuhan Cincau (Cylea barbata) termasuk tumbuhan berbatang merambat, diameter lingkar batang kecil, kulit batangnya kasap dan berduri. Panjang batangnya mampu mencapai belasan meter dan daunnya berbentuk perisai dengan permukaan dengan permukaan dipenuhi bulu. Bunga tumbuhan ini berwara kuning dengan buah batu berwarna merah mempunyai bentuk lonjong.

Cara pengembangbiakan tanaman rambat ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akar. Ada empat jenis cincau yang dikenal masyarakat, yaitu cincau hijau, cincau hitam, cincau minyak dan cincau perdu. Secara umum dalam 100 gram daun cincau mengandung komponen nutrisi protein 6 g, lemak 1 g, karbohidrat 26 g, kalsium 100 mg, fosfor 100 mg, besi 3,3 mg, vit A 10750 SI, vit B1 80 mg, Vit C 17 mg, dengan total kalori sebesar 122 kkal.

2.       Habitat dan persebarannya

Tumbuhan dari genus Mesona, terutama M. procumbens, M. chinensis yang banyak diproduksi di Tiongkok bagian selatan serta Indocina, atau M. palustris yang banyak digunakan di Indonesia, menghasilkan cincau hitam. Tumbuhan ini sering ditemukan didaerah terbuka di tepi hutan, merambat pada semak belukar tetapiada yang merambat pada pagar tanaman. Tumbuhan Cincau cocok tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian dari 800-1000 meter di atas permukaan laut dengan tingkat keasaman 5,5 sampai 6,5.

3.       Kandungan kimia

Beberapa komponen aktif cincau yang memiliki nilai fungsional diantaranya:

a.    Golongan polifenol

b.     Saponin

c.     Flavonoid

d.     Alkaloid bisbenzilkuinolin

e.     Anti-oksida

f.     Zat karbohidrat

g.     Zat lemak(10 persen)

h.     Siklein

i.       Kardioplegium

j.      S,S-Tetrandin

k.    Dimetil tetrandin

l.      Zat anti-protozoa

m.  mineral terutama kalsium dan fosfor

n.    senyawa dimetil kurin-1 dimetoidida

o.    Senyawa isokandrodendrin

4.       Penggunaan

Berdasarkan hasil penelitian, cincau memiliki nilai fungsional diantaranya:

a.       Dapat menurunkan tekanan darah tinggi dari 215mm/120mm menjadi 160mm/100mm dalam waktu satu bulan.

b.       6,23 gram per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau yang dapat membantu memerangi penyakit degeneratif seperti jantung koroner.

c.        Cincau hijau juga mempunyai aktivitas anti-oksidan yang mampu mematikan sel tumor dan kanker.

d.       Cincau sangat baik dalam mengatasi panas dalam dan sariawan yang diakibatkannya.

e.        Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional, tanaman ini bermanfaat untuk mengatasi gangguan perut atau nyeri pada perut, keracunan akibat makan udang,

f.        Daun segarnya bisa digunakan untuk mengobati radang lambung, tipus dan penyakit usus.

g.        Rimpangnya dapat mengatasi demam

h.       Cincau memiliki efek penyejuk serta peluruh (diuretik).

5.      Perhatian

Walaupun tumbuhan ini mempunyai banyak kegunaan,akan tetapi daun cincau juga mempunyai akar tinggal dan daun:cycleine [H26H27N2O2-(OH)-OCH3], candioplegicum(racun terhadap jantung).

A.            Waktu pelaksanaan Praktikum Kimia Organik “Identifikasi senyawa bahan alam”, dilaksanakan pada:

Tanggal : 23 November 2007

Jam        : 07.00-09.30 WIB

Tempat  : Laboratorium Kimia Organik FMIPA UNP

B.            Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah Daun Cincau (Premna oblongifolia Merr.)

Cincau perdu

C.            Alat dan bahan

Alat yang digunakan adalah:

1.    lumpang

2.    pisau/gunting

3.    plat tetes

4.    tabung reaksi

5.    corong

6.    pemanas

7.    kapas

Bahan yang digunakan:

1.       siplisia daun cincau

2.       amoniak-kloroform 0,05N(1ml amoniak dalam 250ml klorofom)

3.       H2SO4 2N

4.       Pereaksi Mayer, wagner dan Dagendroff

5.       metanol

6.       Asam sulfat pekat

7.       Anhidra asetat

8.       HCl pekat

9.       serbuk magnesium

A.            Hasil

No Senyawa yang diidentifikasi Metoda Hasil Berdasarkan Teori
1. 

2.

3.

4

Alkaloid 

Flavanoid

Steroid/ Terpenoid

Saponin

Culvenor –Fitzgerald 

Shinoda test / sianidin test

Metode Lieberman-Burchard

Uji busa

+

(warna pink)

-

+

(terbentuk busa)

+(adanya endapan putih, coklat atau orange) 

+ (warna menjadi merah./ pink atau kuning

-

+ (adanya busa stabil selama 5 menit )

Pembahasan

1.    Identifikasi Alkaloid

Percobaan ini dilakukan dilaboratorium dimana identifikasi senyawa organik bahan alam dengan sampel yang digunakan yaitu cincau pada bagian daunnya. Daun cincau dirajang halus sebanyak 4 gram dan digerus didalam lumpang menggunakan bantuan pasir halus. Tujuannya yaitu untuk mempercepat penggerusan sehingga sampel dapat dengan cepat menjadi lumat, lalu ditambahkan sedikit kloroform, digerus lagi sampai membentuk pasta. Tambahkan lagi 10 ml larutan amoniak-kloroform 0,05 M dan gerus kembali.

Campuran tersebut disaring dengan bantuan kapas agar ampas daun tidak ikut terbawa ke dalam tabung reaksi. Tabung reaksi dikocok dengan kuat setelah penambahan 5 ml larutan H2SO4 2N, dengan demikian akan terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan asam sulfat pada bagian atas dengan lapisan kloroform pada bagian bawahnya. Pada identifikasi alkaloid ini, hanya menggunakan lapisan asam sulfat saja, filtrat tersebut diuji dengan masing-masing pereaksi yaitu pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, dan pereaksi Dragendorf. Hasil yang diberikan oleh masing-masing pereaksi juga berbeda-beda. Endapan putih atau keruh dengan pereaksi Mayer, endapan coklat dengan pereaksi Wagner, atau  endapan orange dengan pereaksi Dragendorf. Metoda pengidentifikasian ini disebut dengan Metoda Culvenor-Filzgerald. Untuk sampel daun cincau yang digunakan ini tidak memberikan hasil yang positif untuk pereaksi apapun. Menandakan daun cincau tidak mengandung senyawa alkaloid. Namun berdasarkan teori yang terdapat di buku, bahwa daun cincau pada uji identifikasi alkaloid seharusnya positif(Alkaloid bisbenzilkuinolin). Hal ini mungkin terjadi karena dalam mengerus tidak terlalu lunak dan saat pengocokan tidak kencang/kuat.

2.    Identifikasi Flavanoid

Pada percobaan identifikasi flavanoid digunakan metoda shinoda test atau sianidin test. Sampel yang digunakan sama dengan sampel pada identifikasi senyawa alkaloid. Sampel yang telah dirajang halus diekstrak dengan penambahan 5 ml metanol. Lalu dipanaskan selama 5 menit. Ekstrak yang telah didapatkan, ditambah dengan beberapa tetes HCl p.a dan sedikit serbuk magnesium. Untuk hasil yang positif secara teoritis daun cincau mengandung flavanoid akan memberikan warna merah atau pink atau  kuning. Pada percobaan ini saya tidak lakukan  karena zat yang digunakan habis. Senyawa flavanoid yang dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-macam bioaktifitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepressant, diuretic(peluruh), dan lain-lain.

Identifikasi Steroid / Terpenoid

Pada identifikasi steroid / terpenoid dimana metoda yang dilakukan yaitu metoda Lieberman–Burchard. Hasil positif yang dihasilkan berbeda antara senyawa yang mengandung steroid dengan senyawa yang mengandung terpenoid. Pada  identifikasi steroid, hasil positif ditandai dengan timbulnya warna biru, sedangkan untuk identifikasi terpenoid ditandai dengan timbulnya warna merah jingga atau ungu.

Pada lapisan yang terbentuk laposan kloroform yang telah dihasilkan pada identifikasi alkaloid sebelumnya ditempatkan pada plat tetes dan dibiarkan mengering lalu ditambahkan 5 tetes anhidrida asetat dan 3 tetes H2SO 4 p.a. Pada daun cincau yang diuji ini, timbul warna biru.hal ini menandakan bahwa daun cincau mengandung senyawa steroid, tetapi tidak mengandung senyawa terpenoid.

Sedangkan berdasarkan teori diketahui bahwa daun cincau tidak memiliki zat bioaktif yang bernama steroid / terpenoid, percobaan yang di  lakukan di laboratorium di temukan adanya steroid, hal ini mungkin saja terjadi kesalahan pada penambahan zat dan tercampur dengan sampel lain..

4.    Identifikasi Saponin

Pada uji identifikasi saponin ini, sebaiknya digunakan sampel yang telah dikeringkan, karena test yang akan diujikan adalah tes pembentukan busa. Bila sampel segar (dalam keadaan basah ) di didihkan dengan air suling, kemungkinan cairan sel akan membentuk busa bila dikocok, adanya busa yang stabil selama 5 menit berarti sampel mengandung saponin.

Pada uji dengan metoda uji busa ini, terlihat bahwa adanya busa yang stabil selama 5 menit setelah pengocokan. Hal ini menandakan bahwa daun cincau mengandung senyawa saponin, hal ini didukung berdasarkan teori yang menjelaskan bahwa daun cincau mengandung zat bioaktif yaitu saponin.

Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya:

1.       Daun cincau mengandung zat bioaktif maka dapat digunakan sebagai obat, diantaranya: mematikan sel tumor dan kanker, mencegah kanker pada ginjal, antiradang, menurunkan tekanan darah tinggi dan lain-lain.

2.       Dengan ditemukan zat bioaktif masyarakat tidak perlu lagi khawatir dengan efek karsinogen

3.       Pada daun terkandung saponin sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan shampoo

Saran

Pada penulisan karya ilmiah ini, disarankan dalam pengidentifikasian senyawa –senyawa pada daun cincau, sebaiknya dalam penambahan zat-zat kimia ke dalam ekstrak tumbuhan bioaktif ini harus berhati-hati, karena perhitungan harus bersifat kuantitatif dan banyaknya zat yang berbahaya, serta mencegah terjadinya kesalahan pada hasil.

Penulis menyadari karya ilmiah ini masih memiliki banyak kesalahan, sehingga penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pembaca sehingga dapat bermanfaat di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden ,Fessenden .1982. Kimia Organik Jilid 2 . Jakarta: Penerbit Erlangga.

L.Tobing.M.Sc,Rangke.1989.Kimia Bahan Alam .Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Markham,1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Penerbit ITB: Bandung.

Muhlisah,Ir.Fauziah.1996.Tanaman Obat Keluarga.Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya

Nazulis,dkk. Kimia Bahan Alam. UNP:padang

Satroamidjojo,Seno.1997. Obat Asli Indonesia. Dian rakyat: Jakarta http://id.wikipedia.org/wiki/Cincau, Cincau. Diakses tanggal 30 November 2007

Soerianegara,I.dan RHMJ.lemmens (eds ) .2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara: Pohon Penghasil Kayu Perdangaan Yang Utama, Prose.a Balai Pustaka. Jakarta: ISBN 9

Tarigan,Ponis,1980. Saponin Steroid. Penerbit alumni: bandung

Tarmizi. 2008. Pereaksi Kimia.Padang: UNPPressz

Tim Kimia Organik .2007 . Penuntun Praktikum Kimia Organik 2 .FMIPA: UNP Padang

Wijayakusuma,Prof .M. Hembing .1992. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia . Jakarta: Pustaka Kartini.

Comments are closed.