MENGOLAH BUAH NONA MENJADI SALAP, TAPAL, OBAT DEMAM, DISENTRI, BISUL, DAN PENGUSIR KUTU BUSUK

Oleh Tarmizi, B.Sc, S.Pd

Buah nona yang dikenal juga dengan manua (Annona reticulate L) dengan nama lain Annona asiatica Lour termasuk keluarga Annonaceae. Di Sumatera orang mengenalnya sebagai serba rasa, buah nona, buah tigoraso, jambu nona, dan buah una. Masyarakat di Jawa menyebutnya manowa, manua, kanowa, kemulwa, kamulwo, kluwa, malowa, mulwa, binuwa, dan binowa. Orang di Nusatenggara menyebutnya nona dae lok, dan ata kase. Masyarakat di Sulawesi menyebutnya sebagai manunang, buwah nonang, sirikaya doke, sirikaya susu, dan sirikaja lasetelong. Di Maluku dikenal dengan sebutan boi non, buwah nyonya, nona, dan nonas (Depkes RI, 1985).

Sosok tanaman

Tanaman boi non, demikian orang Maluku menyebutnya, berasal dari Amerika Tengah. Pohonnya  bisa mencapai tinggi 3-6 meter. Daunnya panjang berbentuk taji, menajam pada ujung dan pangkalnya dengan permukaan kasar.

Bunganya terletak pada gerombolan yang terdiri dari 2-5 kuntum. Bentuknya hampir serupa dengan bunga kenanga. Konon bunga ini dapat memabukkan (menjadi pening), bila dicium. Daging buahnya manis, semanis buah srikaya. Aromanya juga hampir sama dengan buah sirsak yang kerabat dekatnya itu. Buah nona berkulit halus dan sedikit berpupur.

Rasa manua tidak kalah dengan buah yang lain. “Di pasar memang jarang sekali ada”, kata salah seorang kolektor tanaman langka di desa Beji-Malang. Kalau ada, harganya termasuk mahal. Tanaman ini termasuk yang sukar dibudidayakan. Baik dikembangkan secara generatif lewat biji, maupun secara vegetatif (melalui cangkok, sambung dan cara lain). Makanya, tidak banyak orang yang tertarik memperbanyaknya.

Kandungan dan khasiat buah nona

Biji buah nona dikenal dengan nama simplisia Annonae reticulate semen. Kandungan zat berkhasiatnya antara lain tanin dan alkaloida anonaina.

Akar buah nona digunakan untuk obat penurun panas (obat demam). Bijinya dipakai untuk pembunuh serangga dan pengelat.

Obat disentri

Kulit pohon buah nona mengandung zat samak yaitu tannin. Kulit pohon ini dapat dipakai penyembuh disentri. Caranya adalah sebagai berikut: kulit pohon dipotong selebar 2 jari, dicuci bersih dan ditambahkan air 400 cc lalu direbus. Biarkan terus mendidih hingga airnya tinggal separoh. Angkatlah dan biarkan menjadi dingin sendiri, setelah dingin, air rebusan itu dibagi tiga untuk diminum 3 kali sehari.

Obat demam dan bisul

Selain untuk obat dalam, kulit batang buah nona juga dipakai sebagai obat kompres untuk demam dan mematangkan bisul. Cara penggunaannya sederhana saja. Kulit batang yang sudah diambil dicuci bersih kemudian digiling halus.

Tempelkan obat ini pada kening untuk mencabut panas demam. Untuk mematangkan bisul, tempelkan obat yang sama pada bisulnya.

Pembasmi kutu busuk

Daun sirikaya susu ini bermanfaat untuk membinasakan kutu busuk pada hewan, pada anjing misalnya. Daun-daun buah nona ini cukup digiling halus dan kemudian diambah air secukupnya. Semirkan ke tubuh hewan piaraan  yang berkutu itu.

Membuat salap manuwa

Sediakan bahan kering dari gilingan kulit batang buah nona sebanyak 4 ons atau dalam bentuk bubuk. Siapkan pula minyak kelapa/mentega 4 ons, vaselin 1 ons. Mentega dicairkan dulu di atas kompor, masukkan vaselin kemudian diaduk hingga bercampur menjadi satu. Masukkan bahan obat (bubuk kulit manua) dan diaduk selama 15 menit. Setelah bercampur rata langsung diangkat. Selagi masih panas salap ini dimasukan ke dalam botol atau wadah penyimpan lainnya. Salap yang dibuat ini dapat disimpan selama dua tahun. Asalkan saja penyimpanannya di tempat yang bersih dan salap juga dijaga kebersihannya.

Membuat tapel manuwa

Bahan kering atau pun basah (dari gilingan kulit manuwa) diletakkan di atas kain tipis/kain kasa yang hangat. Kalau kainnya dingin, akan memberikan efek yang lambat, tapi kalau hangat akan lebih cepat efeknya.

Yang perlu diingat lagi, baik pemakaian salap maun tapel, apakah jenis tanaman obat yang kita pakai itu berbahaya masuk kepori-pori kulit? Namun para pakar di bidang ini mengatakan, meskipun tanaman itu tergolong beracun, sejauh penggunaannya terbatas, sifat racunnya kecil sekali. Sebab kandungan racun tanaman obat tertentu, bukanlah kandungan racun murni bila dibandingkan dengan bahan kimia hasil proses laboratorium. Hanya yang perlu diperhatikan, bahan salap tetap harus kering (dari kulit manuwa yang dikeringkan), sedangkan tapel boleh kering atau basah dari kulit manua. (Tarmizi, B.Sc, S.Pd/ Universitas Negeri Padang)