Vitamin A


Vitamin A telah terbukti dapat menurunkan komplikasi campak dan kematian sebebesar setengahnya. Hubungan antara berbagai penyakit tersebut dengan KVA ditunjukkan melalui berbagai penelitian. Suatu studi prospektif pada anak-anak.di daerah pedesaan di propinsi Aceh mencatat adanya peningkatan risiko penyakit diare pada anak-anak yang menderita KVA tingkat awal. Dari data yang sama dilaporkan adanya peningkatan risiko terhadap xeroftalmia setelah menderita diare, dengan catatan vitamin A oral diabsorbsi meskipun ada diare.

Suatu studi longitudinal di Indonesia melaporkan adanya peningkatan risiko untuk menderita penyakit saluran pernapasan pada anak-anak dengan KVA tingkat dini. Penyakit saluran pernapasan dalam studi ini didefinisikan sebagai adanya batuk,,rhonchi atau rales yang oleh pemeriksaan dokter anak menjurus ke diagnosis bronkhitis atau pneumonia. Sedangkan dalam suatu survei yang dilakukan di Cebu, Filipina, menunjukkan bahwa xeroftalmia aktif mempunyaikorelasi positif dengan TBC paru-paru yang diderita sebelumnya (didiagnosis dengan xray) atau dengan batuk rejan yang diderita saat itu.

Terhadap campak, kaitan erat dengan status vitamin A adalah serum vitamin A cepat menurun; respons kekebalan, terhambat; potensi untuk menjadi buta sering terjadi; dan pemberian cepat vitamin A mengurangi kerusakan mata dan meningkatkan kelangsungan hidup.

Banyak laporan dari Afrika yang menyatakan tentang komplikasi berat akibat campak, dan frekuensi peradangan pada, kornea dan selaput tipis biji mata inilah yang menyebabkan kebutaan. KVA tampaknya merupakan faktor penyerta yang mungkin menyebabkan lemahnya selaput tersebut sehingga menjadi lebih rentan terhadap invasi mikroorganisme patogen, seperti herpes simplex dan infeksi virus lainnya. Hasil dari dua studi di Afrika Selatan telah menunjukkan bahwa kematian karena campak dapat diturunkan menjadi setengahnya dengan pemberian vitamin A. Hasil tersebut diperoleh dalam  populasi di mana vitamin A tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Karena kurangnya vitamin A dalam makanan sehari-hari, satu juta anak balita di seluruh dunia menderita penyakit mata tingkat berat (xeroftalmia) tiap tahun. Seperempat dari anak-anak ini menjadi buta, dan 60% dari yang buta tersebut kemudian meninggal dalam beberapa. bulan.

Absorbsi Menurun

Untuk mengatasi kurang vitamin A yang sangat dibutuhkan anak balita, selain diperoleh dalam bentuk kapsul dan melalui ASI, setiap hari anak perlu diberi makanan  seperti telur, atau hati. Departemen.Kesehatan, me. lalui Program Suplementasi Kapsul Vitamin, A, menyediakan  kapsul vitamin A dosis tinggi, 200.000 IU yang. diberikan sitiap 6 bulan. Hasil pemantauan di Di Aceh pada tahuil 1986, pemberian vitamin A dosis tinggi terbukti dapat menurunkan risiko kematian anak balita sebesar 34%. Penelitian yang sama di Jawa Barat menunjukkan penurunan angka kematian sebanyak 46%.

Dengan adanya bukti-bukti yang menunjukkan peran vitamin A dalam menurunkan

angka kematian dan angka kesakitan, maka program penanggulangan KVA ini lebih dikaitkan dengan tiga hal utama, yakni kelangsungan hidup, kesehatan,.dan pertumbuhan anak. Lantas, apakah xeroftalmia hanya menimpa anak balita? Pada kebanyakan kasus, meskipun dapat terjadi pada semua umur. Di Asia contohnya, distribusi penyakit tertinggi terdapat pada umur dua sampai empat tahun.

Pada anak-anak usia muda kebutuhan vitamin A meningkat karena mereka ada pada tahap pertumbuhan yang cepat, dan rentan terhadap infeksi yang berulang. Infeksi akan menghambat kemampuan tubuh untuk mengabsorbsi zat-zat gizi, dan pada saat yang sama akan mengikis habis simpanan vitamin A dalam tubuh. Akibatnya, kebutuban akan meningkat dan absorbsi menurun. sehingga terjadi kerusakan kornea berat yang dapat menyebabkan kebutaan. Ini banyak terjadi pada anak antara umur 6 bulan sampai 6 tahun. Dalam hal ini, KVA sering merupakan penyebab tunggal kebutaan pada anak-anak balita di negara-negara berkembang. Makin muda anak menderita, KVA, makin berat penyakit yang diderita, dan makin besar risiko kerusakan kornea yang diikuti dengan kematian; 60-70% dari semua kasus yang tidak diobati akan menyebabkan kematian setelah beberapa minggu terjadinya kebutaan.

Faktor-faktor risiko timbulnya KVA adalah umur, kemiskinan, letak geografis, makanan, kebiasaan pemberian makanan,  dan  angka kematian. ASI merupakan sumber vitamin yang baik.  Makanan untuk.ibu yang menyusui harus cukup mengandung vitamin A atau karoten. Bila vitamin A  dalam, makanan ibu rendah, maka dalam ASI secara proporsional juga rendah, dan bayi akan berada dalam periode penyapihan yang kritis dengan simpanan vitamin A yang sangat rendah. Hal itu sekali lagi menunjukkan keunggulan ASI.

Bayi-bayi yang tidak mendapat ASI berisiko lebih tinggi menderita KVA. Meskipun pemberian ASI secara benar belum biasa dilakukan, tetapi kalau ini diterapkan dapat mencegah KVA. Pemberian ASI yang baik termasuk tidak memberikan makanan maupun cairan sebelum mulai laktasi saat lahir, memberikan kolostrum, tidak memberikan cairan atau makanan padat paling tidak sampai umur 4 bulan, terus memberikan ASI sampai 2 tahun  atau selama mungkin setelah pemberian makanan padat. Anak-anak kelompok umur 6-24 bulan rentan terhadap makanan yang  kurang mengandung vitaminA. Karena lemak penting untuk absorbsi vitamin A dan karoten, maka pada penduduk yang memakan makanan berlemak rendah mempunyai risiko terhadap KVA.

Perbaikan menu makanan untuk meningkatkan bahan-bahan makanan sumber karoten (pro-vitamin A) dan vitamin A alami merupakan cara penanggulangan KVA jangka panjang yang paling aman dan lestari. Pemberian vitamin A dosis tinggi  dan fortifikasi merupakan cara artifisial untuk menutupi kekurangan vitamin A ajkibat kebiasaan makan yang tidak  baik.

Bahan makanan sumber vitamin sebenarnya banyak dijumpai, termasuk di daerah rawan KVA. Tanaman sayuran hijau dan buah-buahan banyak tersedia, hanya sayangnya kurang dimanfaatkan  dengan sebaik-baiknya. Pemberian ASI yang cukup dapat meningkatan status vitamin A dan mencegah KVA.  Penggunaan secara terbatas makanan pendampinp ASI pada umur 4-6 tahun dapat menunda  terjadinya diare yang akan mengikis persediaan vitamin A dalam tubuh.  Oleh.sebab itu bayi di bawah umur 6 bulan bila disusui mempunyai risiko yang lebih rendah terhadap KVA.

Dalam makanan hewani, vitamin A terdapat dalam bentuk retinol seperti dalam, lemak, hatti, susu, mentega dan telur, sedangkan karoten terdapat dalam sayuran seperti wortel, daun singkong, bayam, ubi kuning, kangkung, buah-buahan non citrus seperti pepaya, mangga. Sejumlah vitamin A yang sama. dapat diperoleh dari 68 gram bayam, atau dari 63 gram hati sapi, 127 gram telur ayam, 1,7 liter susu segar penuh, atau dari 6 kg daging sapi atau daging kambing.(Ayodya L Ryadi, 2004)

Begitu pentingnya peranan vitamin A dalam menjaga kesehatan anak balita menjadi kewajiban para. ibu untuk memperhatikan gizi makanannya.. Untuk merangsang nafsu makan mereka sebaiknya bahan makanan tersebut diolah dengan cara disaring atau dihaluskan, sehingga sesuai dengan rasa dan selera yang disukai anak-anak. (Tarmizi, B.Sc, S.Pd/Universitas Negeri Padang /multisumber)