Anak Nelayan Raih Summa Cumlaude

Jurusan Kimia UNP, mengucapkan selamat kepada Sdr Ciptro Handrianto, semoga bisa menginspirasi mahasiswa Jurusan kimia agar mencatatkan prestasi serupa…(Red)

Y U N I, Wartawan Madya (Singgalang (23/9)— Saya tidak menanam satu batang kelapa pun untuk kalian petik, tapi saya tinggalkan kalian dengan pendidikan. Maka raihlah cita-cita, jangan cepat berpuas diri, karena kami yakin kalian bisa.” (Pesan Sarwisman, seorang nelayan di Pessel pada anaknya)

DUA JEMPOL

****
Tepuk tangan membahana di GOR Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (21/9) saat nama Ciptro Handrianto disebutkan pembawa acara. Anak nelayan itu melangkah ke depan dengan toga di kepala. Suasana tiba-tiba hening.

Apresiasi ribuan wisudawan wajar didapatkan lulusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan itu, karena dari 3.348 lulusan pada wisuda ke-98 itu, dia satu-satunya peraih prediket summa cumlaude dengan IPK 4.00.
Rektor UNP, Prof. Yanuar Kiram pun tidak sekadar bertepuk tangan. Dia mengacungkan dua jempol sebagai apresiasinya kepada anak pertama dari Sarwisman dan Nurhayati itu, saat pemuda tersebut sampai di hadapannya untuk pemindahan jambul toga.

Ciptro, pemuda kelahiran 16 Juli 1990 itu telah mencetak sejarah. Tidak saja bagi UNP, terutama bagi dirinya dan keluarganya. Betapa tidak, terlahir sebagai anak seorang nelayan, ia tidak ingin mewarisi pekerjaan itu kembali seperti yang juga diharapkan ayahandanya. “Abak ingin kami anak-anaknya bersekolah, karena pendidikanlah yang bisa mengubah nasib kita,” kata Ciptro mengulang pernyataan ayahnya yang dipanggil Abak.
Meski Abak dan Amaknya tidak bersekolah tinggi, kedua orangtuanya itu menurut pemuda yang langganan juara satu sejak sekolah dasar ini, selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk giat belajar.
“Saya tidak menanam satu batang kelapa pun untuk kalian petik hasilnya, tapi saya tinggalkan kalian dengan pendidikan. Maka raihlah cita-cita kalian, jangan cepat berpuas diri, karena kami yakin kalian bisa,” sebutnya menirukan kata-kata Abaknya dengan suara bergetar. Abak dan amaknya berasal dari Pesisir Selatan.
Pesan itulah yang selalu diingatnya dalam setiap langkahnya. Ia pun selalu optimis mampu menggapai asa yang sudah ditanamkan dalam dirinya.
“Sebenarnya dulu saya bercita-cita menjadi dokter. Tapi karena ketiadaan biaya, Abak dan Amak meminta saya mengurungkan niat menjadi dokter dan memilih jurusan lain saja yang biayanya bisa terjangkau,” cerita anak pertama dari empat saudara itu.
Singkat cerita, pemuda yang masuk PLS dengan status Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) itu memilih jurusan Kimia dan PLS, UNP. Sayang dia tidak lulus pada jurusan Kimia, tapi jebol di PLS. Namun, hal itu tidak membuatnya merasa kecil hati. “Awalnya tentu sedih. Tapi saya harus melupakan mimpi kuliah di Kimia, sehingga saya tidak memiliki beban saat kuliah di PLS,” bebernya.
Ia pun kemudian menjalani perkuliahan dengan enjoi, karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya yang sudah bersusah payah mencarikan dana agar ia bisa kuliah. “Untuk masuk kuliah, orang tua terpaksa berutang. Begitu juga semester dua, dan semester tiga saya pinjam uang fakultas. Baru semester empat dapat beasiswa dari Van de Venter, sebuah NGO dari Belanda yang membiayai pendidikan anak-anak di negara bekas jajahannya. Di samping itu, saya juga dibantu Ibu Syur’aini, dosen di PLS yang membantu biaya kuliah dan wisuda,” papar lulusan SD 35 Sungai Sirah yang sekarang berganti jadi SD 14 itu.
Kini, buah kerja kerasnya dan sokongan orang tuanya tidak sia-sia. Bangga membuncah dalam dadanya, karena ia berhasil menjadi yang terbaik. Namun, ia tidak ingin menyombongkan diri. Tamatan SMP 1 Sutera dan SMA 1 Sutera ini pun berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Australia dipilih sebagai negara tujuan pendidikan.
“Di sana, rencana saya akan mengambil jurusan Education and Training sebagai cabang PLS. Selain itu, saya juga mendengar upah minimum regionalnya lumayan tinggi. Nanti, jika bisa lolos kuliah di sana, saya bisa kerja sambil kuliah, sehingga bisa membantu orang tua,” lanjutnya.
Sayang, ia belum memiliki dana untuk melanjutkan studi ke negeri Kanguru itu. Ia berharap, ada yang berbaik hati mengulur tangan kebaikan kepadanya, sehingga asa-nya yang masih terpendam dapat diwujudkan.
Ke Korea
Ada yang menarik dari pemuda ini, pada 20 Oktober mendatang, ia akan berangkat ke Korea dalam program pertukaran pemuda sebagai utusan Sumbar. Sebelum berangkat ke negeri ginseng itu, ia akan berada di Jakarta selama tiga hari, berkumpul dengan rekan-rekan lainnya dari 20 provinsi. “Pesertanya ada 20 dari 20 provinsi. Program ini sama dengan lima negara lainnya, Jepang, China, Kanada, Australia, dan Malaysia,” bebernya
Program itu berlangsung 20 hari, yang 10 hari dilaksanakan di Korea dan 10 hari lagi di Makassar. (*)

Sumber : Harian Singgalang

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: buy backlinks | Thanks to webdesign berlin, House Plans and voucher codes